Berawal dari Mimpi yang Besar

By Afif
Kala matahari mulai malu untuk menampakkan sosoknya di atas Kediri di senja sore yang cerah. Di sudut rumah reot yang terletak di desa Duwet duduklah pemuda harapan bangsa. Pemuda tersebut sedang menghanyati kata-kata mutiara yang telah menari-nari di pikiranya sejak di sekolah tadi. Kata mutiara, yang diberikan gurunya ialah“Hey, you open your eyes and get mind your future.”, yang telah memberikan lecutan semangat bagi dirinya agar dapat menatap masa depan yang cerah. Pemuda tersebut bernama Afif Indrawan, lebih akrab dengan panggilan Afif, mempunyai paras yang hitam manis, sabar, kreatif, serta sederhana.
Beberapa menit setelah menunaikan sholat maghrib Afif teringat dengan ucapan Einstein,“Ada dua cara menjalani hidup, yaitu menjalaninya dengan keajaiban-keajaiban atau menjalaninya dengan biasa-biasa saja“. Kemudian Afif cepat-cepat menafsirkan kembali apa yang di maksud oleh kata-kata Einstein. Afif menafsirkannya bahwa seseorang harus punya impian yang besar buktinya Thomas Alfa Edison menemukan bolam lampu dari mimpi besar dia untuk menerangi dunia. Inilah wujud salah satu cara untuk mengarungi kehidupan dengan keajaiban-keajaiban yaitu orang harus total serta tetap memupuk mimpi-mimpi besar untuk membuat perubahan yang membantu terwujudnya dunia yang lebih maju dan bermanfaat bagi orang banyak. Jadi, seseorang dalam mengarungi kehidupan dengan penuh ajaib, dengan menyerahkan kepada Kuasa Tuhan Yang Mahakuasa serta selalu bersyukur setiap apa yang telah didapatkan.
Sesaat kemudian Afif mulai menyusun mimpi yang besar. Impiannya ialah menjadikan tahu Kediri Go Internasional. Impian tersebut berawal dari kegemarannya makan tahu goreng(tahu holic), lalu background kehidupannya sebagai anak penjual tahu keliling, adanya komentar dari masyarakat sekitar yang memandang sebelah mata tentang profesi orang tuanya, serta ingin gaungan Kediri sebagai kota tahu tidak hanya populer di Indonesia saja tapi dapat terdengar sampai luar negeri. Impian tersebut dipendam dalam hati dan berjanji tidak akan mengatakan sepatah katapun kepada orang lain bahkan orang tuanya sendiri tidak dikasih tahu sebelum dapat membuktikan.
Afif sekarang masih duduk di bangku SMA kelas Dua-Bahasa. Afif merasa bahwa ia belum punya waktu untuk mewujudkan impiannya tetapi ia tidak begitu saja putus asa. Afif menyiasatinya dengan belajar membuat tahu putih dari orang tuanya serambi membantu mereka. Itu semua dilakukan sebagai modal awal yang bagus bila diibaratlan bangunan maka dia telah membuat pondasi yang kuat terlebih dahulu. Afif berharap selekasnya lulus SMA ia dapat mewujudkan impiannya meski butuh proses yang panjang serta adanya kesabaran yang besar.
Setelah lulus afif segera total terjun dalam dunia tahu. Meski semua sahabatnya menuntut ilmu ke perguruan tinggi kecuali ia, ia tetap menjalin relasi dengan mereka dan tidak merasa minder. Afif mengawali kegiatannya dengan menjadi penjual tahu seperti ayahnya. Setiap hari hidupnya mulai lekat, terbiasa, serta serasa telah menyatu dengan kedelai(bahan utama membuat tahu), pengaduk cetakan, tungku pembakaran, kain saring, serta masih banyak yang lainnya. Beberapa bulan kemudian akhirnya Afif sudah bisa membuat tahu yang layak dipasarkan.. Meski begitu Afif merasa bahwa cita rasa buatannya masih jauh beda dengan ayahnya.
Afif dalam berusaha mengungguli cita rasa tahu ciptaan ayahnya banyak terjadinya kegagalan tetapi dia tetap berusaha. Afif bergumam dalam hati. Jika aku belum mampu mengungguli ayahku maka aku sama seperti katak dalam tempurung.Maka aku harus bisa, tambah Afif. Akhirnya usahanya tidak sia-sia, sekarang Afif dapat mengungguli cita rasa buatan ayahnya. Akan tetapi Afif tidak langsung merasa puas dia menginginkan mampu membuat tahu jenis yang lain, yaitu tahu kuning. tahu kuning tersebut kebanyakan diproduksi oleh pengusaha keturunan Cina yang ada di kota.
Beberapa bulan kemudian Afif mulai merantau ke kota Kediri untuk menjadi karyawan di salah satu pengusaha tahu kuning. Afif mulai mendatangi pengusaha tahu kuning yang ada di sepanjang jalan klenteng untuk melamar. Afif mendapatkan berbagai jawaban yang sama yaitu di tolak. afif mendapatkan perlakuan yang menyenangkan tetapi tidak sedikit juga yang memperlakukannya dengan kasar. Itu semua ia lakukan dengan sabar. Ketika tiba di ujung jalan ia bertemu dengan lelaki yang berumur paruh baya. Lelaki tersebut ialah pengusaha tahu kuning yang mempunyai semanggat untuk mensukseskan pemuda yang bersemangat menggebu-gebu. beliau mengajak bicara Afif yang sedang istirahat.
“Hei, kok melamun?” tanya lelaki paruh baya tersebut.
“Ah, tidak kok. Saya sedang istirahat sejenak serambi memikirkan tempat pengusha tahu kuning yang lainnya.” jawab Afif.
“Uwhm, kamu namanya siapa dan dari mana? Mau melamar sebagai karyawan?” tanyanya.
“Nama saya Afif Indrawan dari Duwet Wates. Ya, saya mau melamar sebagai karyawan seraya belajar membuat tahu kuning yang bermutu bagus.” jawab Afif dengan sungguh-sungguh.
“Uwhm, begitu. Bila kamu sungguh-sungguh serta dapat telaten maka kamu akan aku jadikan karyawanku. Apakah kamu sanggup?” tanyanya seraya menantang Afif.
“Ya, saya bisa.” jawaban yang tegas keluar dari lubang kedua bibirnya untuk membalas tantangan tersebut.
“Kalau begitu besok mulailah bekerja di tempatku jam tiga pagi!” kata beliau seraya menunjuk tempat pembuatan tahu kuning milik beliau.
“Tidak usah menunggu hari esok pak! Sekarang saya sudah siap bekerja.” jawabnya dengan spontan.
“ah tidak besok aja. istirahatlah dulu! lihatlah dirimu yang masih kecapekan itu! lagi pula hari ini masih libur.” katanya.
“ehm, ya bila kamu ingin menginap. menginaplah di kamar karyawan yang masih kosong!”
“ya pak, terima kasih atas semuanya.”
Beliau memilih Afif setelah beliau melihat dari kesungguhan serta kesabaran meski ditolak di sana ke mari.
Afif merasa senang telah diterima dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dalam waktu dua minggu Afif sudah bisa membuat tahu kuning yang cita rasanya sama dengan bossnya. karena kemajuan Afif yang begitu pesat, itu membuat hati bossnya terbuka agar mau mengangkatnya jadi kaki tangan. Di sana Afif telah melakukan pepatah yang berbunyi, Sekali Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui. Karena Afif tidak hanya belajar membuat tahu kuning tetapi juga cara memasarkan produknya kepada konsumen selain itu ia mendapatkan pelajaran tentang prinsip jual orang Cina agar memperbanyak pelanggan meski harus rela mengambil untung yang sedikit.
Setelah dua belas bulan bekerja Afif ingin mengepakkan sayapnya lagi untuk membuat steak tahu. keinginannya didukung serta disemangati oleh pengusaha tersebut agar tidak langsung puas dan mau mengembangkan lagi. Sebelum Afif melirik pengusaha steak tahu yang sukses. Afif mempraktekan ilmunya di pabriknya. afif berhasil menjadi pembuat tahu putih dan kunig yang sukses dengan di tandai dapat memperbarui pabriknya serta dapat membuat lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitarnya.
Afif mulai melirik pengusaha steak tahu yang sukses. Afif tidak ingin sekedar tahu cara membuat tapi dia ingin bisa membuat. Karena menurutnya, orang malas cenderung hanya ingin tahu tapi orang sukses ingin bisa. meski dia sudah menjadi bos, dia tidak malu untuk melamar menjadi karyawan steak tahu. selama setengah tahun bekerja di pabrik steak tahu ia sadar bahwa tahu tidak hanya di goreng tetapi dapat diolah dengan cara lain sehingga dapat menimbulkan keunikan misalnya steak tahu.
Setelah bekerja di dua tempat yang berbeda ia mulai mencoba berusaha di desanya serambi mengumpulkan modal menyewa ruko di dekat tempat wisata. ia membuat produk yang hamper sama dari tempat bekerjanya semula akan tetapi lama kelamaan ia mulai mencari-cari tentang perbedaannya agar tidak teresan sama. usaha barunya mulai di terima oleh masyarkat sekitar dan afif mendapatkan pelanggan tetap yang banyak. sehingga ia membutuhkan karyawan untuk membantunya bahkan ia mampu membuat lapangan kerja baru bagi lingkungannya. para masyarakat yang dulu telah menganggap sebelah mata tentang penjual tahu mulai sadar dan jadi ikut-ikutan..
afif mulai punya modal yang banyak sehingga ia dapat membangun ruko di tempat dekat wisata di kediri. afif ingin rukonya beda serta unik dari pada yang lainnya. maka ia meminta pendapat kepada temannya yang kuliah jurusan seni. ia disarankan untuk mewarnai dindingnya seperti warna tahu kuning. serta di beri gambar menu-menu yang di sajikan serta harganya. mejanya di bentuk seperti tahu yang tinggi dan kursinya seperti tahu yang pendek. dan tak kalah pentingnya ia harus punya naa tersendiri.
afif memikirkan nama hasil produksinya agar terlihat bombastis. setelah tiga hari tiga malam ia baru menemukan nama yang menurutnya bagus. ia memberi nama “jajanan tahu kediri”. keunggulan jajanan tahu buatannya tersebar dari mulut ke mulut. setelah sukses membentuk satu ruko yang unik di salah satu tempat wisata di kediri ia mulai mencari tempat wisata di kediri yang lainnya untuk membangun ruko yang bentuknya sama. perjuangannya tidak itu saja ia mulai mengenalkan produknya di dunia maya melalui sahabatnya yang berhasil di nego untuk membuat situs resmi tentang Jajanan Tahu Kediri.
ia mulai membuat ruko-ruko hingga ke berbagai kota-kota besar. dan mempunyai banyak anak cabang. suatu hari sahabatku yang kuliah dati luar negeri mengenalkankau kepada orang yang ingin mengimpor produknya dikarenakan gaungnya sudah didengar sampai keluar negeri. ketika iktikad baik itu didengar oleh afif lekas saja dia sujud syukur karena impiannya selama ini telah berhasil setelah itu mengiyakan tawaran orang saing tersebut. ia ingat kata-kata Mario Teguh. “Apapun yang Anda perjuangkan melalui pertarungan – pasti merupakan sesuatu yang penting bagi Anda. Itu sebabnya Anda dikenal dari apa yang Anda pertarungkan.”

karena ia teringat dengan pesan temannya,”When you fall down, just try again!”

posted under | 0 Comments

Roti Bakar Elektrik

Minggu ini gue ngerasain apa yang dinamakan kolaborasi yang sempurna antara bakat dan alam. Males ternyata cocok banget kalo dijodohin sama ujan, ditambah lagi weekend, maka yang akan dihasilkan adalah HIBERNASI ala anak kostan.Siang dan malem udah ga ada bedanya lagi di kostan. Semua pintu, jendela dan tirai ditutup rapat-rapat. Gue sama temen-temen kostan udah kayak segerombolan vampire yg bersembunyi dari sinar matahari, dalam ruangan kecil yang gelap. Kebiasaan kami tidur berjamaah selama hari sabtu dan minggu, selalu berulang. Sehingga para tetangga kita udah paham betul dengan ritual ini. Kadang kita suka mikir, kira-kira kapan ya kelakuan ini bisa berakhir? Kata temen gue Alfonso (cu shui), kita bakalan berhenti hibernasi kalo udah ada koran terbit dengan headline: 4 MAHASISWA DITEMUKAN MEMBUSUK DALAM KAMARNYA. (menggenaskan)."Bong... bong..." kata Ieday sambil terus goyang2in pundak gue yg masih asik tidur."Ada apa Dai?" tanya gue males2an."Katanya, mau tidur"."Sialan lu, ganggu aja. nih gue lagi tidur Bodoh!"."Hehe becanda, gitu aja sewot, kayak beruang bunting lu!" kata Ieday terus nyeret tangan gue, biar bangun."Ada apaan sih lu bangunin gue?" tanya gue yang bary loading 20%."Lu laper nggak?". "Sebenernya sih iya"."Makan yuk!" ajak Ieday."Males jalan, ujan! lu masak mie aja, entar gue ikutan makan. ok?!""Mie-nya kan udah habis"."Yaaa udah tidur aja lagi, sapa tau entar kita mimpi makan, kan lumayan gratis"."dasar pemalas! ya udah lu tidur aja, gue mo masak"."Kalo udah mateng bangunin gue ye..."."Ogah!".Entah apa yang bakal dimasak sama Ieday tengah malam gini. Beras ga ada, mie ga ada. seingat gue sih cuman ada roti & selai. Gue cuman bisa berdoa: Mudah-mudahan dia masih sadar dan tidak melakukan hal2 yg tidak senonoh dengan selai di dapur."Broth...bangun" kata Monhox."Ada apa sih Nhox?"."Ditunggu anak2 tuh di ruang tengah"."Ok lu duluan deh, gue cuci muka dulu" pesen gue ke Monhox.Begitu gue nyampe ruang tengah ternyata personel kostan udah ngumpul. Ada Ieday, Sutan dan Monhox yang duduk melingkari sepiring roti bakar. Gue memandang penuh curiga ke Ieday."plis jangan bilang lu habis ngepet!" kata gue dalem hati."Ayo ah! buruan udah pada laper nih!" teriak Sutan."Eit, dari mana lu dapet roti bakar?" selidik gue."Ieday broth yang bikin" jelas Monhox, sedangkan ieday senyum2 ga jelas, seakan mo pamer kecerdasannya."Lah, kita kan ga punya pemanggang roti" kata gue penuh rasa curiga."Banyakan omong nih" kata Sutan terus mulai makan roti bakar, disusul kemudian Monhox."Jadi gini bong, gue manggang rotinya pake setrika. Nyamm..." jelas Ieday sambil mengunyah sepotong roti bakar."Rasanya enak kok Broth, ga kalah sama roti bakar edi". "Makasih deh" kata gue,"lu makan aja bertiga, gue udah kenyang"."Wah beneran nih?" tanya Sutan."Iya..."Seneng rasanya ngeliat temen kostan kompak. Makan bareng-bareng. meskipun dalam hati ada hal yang gue rahasiain, tapi gue ga sampe ati bilang ke mereka."Kenapa sih lu bong ga mo makan?" tanya Ieday."Iya, lu ada masalah broth?" tambah Monhox."Enggak, gue ga ada masalah kok. Gue cuman jijik aja" kata gue keceplosan."Jijik kenapa? ini bersih, higienis lagi" jelas Sutan."Higienis dari mana? setrika itu kan abis gue pake nyetrika celana dalem gue yg belum kering!"."Anjrot!"."Huekz"."Sialan! kenapa lu ga bilang dari tadi. Huekz!!!"."Salah ya gue?" tanya gue yang ngeliat temen-temen gue kompak muntah berjamaah."Ya iyalah..." jawab mereka kompak."huekzzz".

posted under | 0 Comments

Ibu dengan Tiga Kematian

Sepeda tua pak Shabri perlahan merayap keluar dari kampung Tirtasari. Lelaki berusia 35 tahun itu saban sore selalu berkecipak di jalan berkerikil itu pulang kerumahnya. Dia seorang tukang pelihara itik pocokan di rumah Pak Haji Ahmad. Di kampung yang sangat terkenal dengan penghasil itik petelur.Beribu kayuh melaju, kampung Tirtasari pun hanya terlihat seperti titik hijau kehitaman di daerah persawahan yang luas. Dengan nafas terengah sesekali pak Shabri membetulkan letak bambu panjang mirip pancing yang disampirkan di pundaknya. Setengah jam lebih, mulai terlihat di depan jembatan panjang kali Mambu. Pertanda ia akan segera sampai di rumah kecilnya yang terletak di pinggir jalan besar. Istana kebanggaanya yang dihuni bersama istri dan tiga jagoan kecilnya. Si Aslam yang baru tiga bulan dilahirkan oleh istrinya tercinta, si Aiman yang duduk di kelas 1, dan si sulung Arham yang duduk di kelas 5. Aiman dan Arham duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Babadan, tidak jauh dari rumah mereka. “Assalamu’alaikum ....” Sapa Pak Shabri setelah merebahkan sepeda tuanya di gang sebelah rumah yang hanya berukuran 5 × 7 meter. Rumah itu berdinding kayu. Hanya mempunyai satu kamar dan beberapa perabotan sederhana serta terapit dua bangunan besar. Toko bangunan pak Dullah berada di kanan dan di sebelah kiri berdiri megah stasiun pengisian bahan bakar bercat merah menyala. Di antara dua bangunan itu terdapat dua gang sempit yang menjadi nafas bagi rumah pak Shabri.“Wa’alaikumsalam warrahmatullah.” Nampak Bu Siti keluar sambil menggendong Aslam menjemput suami terkasih dan membukakan pintu.Pak Shabri mendaratkan kecupan mesra di kening bu Siti.“Oh ya Bu, ada titipan dari Pak Haji. Untuk anak-anak katanya.” Pak Shabri sambil merubuhkan tubuhnya di tikar pandan tua.“Masya Allah, apa ini Pak.” Bu Siti menggeledah tas plastik hitam pemberian Pak Haji yang memang terkenal dermawan.“Alhamdulillah. Ini ada tiga potong pakaian untuk anak kita. Alhamdullillah... Ya Allah, matursuwun.” Bu Siti kemudian memeluk suaminya yang masih berpeluh. Dan seketika itu pula berhambur dari pintu depan si Aiman dan si Arham pulang ngaji dari masjid Nurul Hikmah dekat pasar Babadan.“Aiman, Arham sini. Ibu cobain baju baru. Sini... sini.” Dengan wajah ceria Ibu Siti menciumi kedua anaknya.“Baju baru? Horee....” Kedua anak itu riang sekali. “Besok kan bukan lebaran ibu, kenapa dibelikan baju baru?” Celetuk Arham.“Iya sayang, baju ini pemberian Allah melalui Pak Haji. Ayo kita baca hamdallah bersama!”“Alhamdulillah....” Aiman dan Arham pun menengadahkan tangan mereka dan tersenyum manis.“Eh, eh, eh sebentar. Tunggu!” Pak Muhklis menyahut sambil cemberut.“Aiman dan Arham, sebelum kalian coba baju itu. Bapak mau tanya. Tadi ketika masuk rumah, sudah salam belum? Hayo?” Tanya Pak Shabri dengan mimik serius dan sejurus kemudian tersenyum menggoda.“Eh, iya Bapak. Kami lupa. Hihihihihi.” Kedua anak kecil itu kembali berlari ke luar dan sekejap kembali membalikkan badan dengan mengucap, “Assalamu’alaikum Bapak, assalamu’alaikum Ibu.”Dan kedua orang tua itu pun menyahut dengan ucapan salam sambil tersenyum bahagia. Pak Shabri memang terkenal bijak dalam mengajari kedua anaknya. Dia tidak pernah marah-marah. Tapi sering mengungkapkan pertanyaan retoris kepada anaknya. Dia banyak memberi contoh. Karena Pak Shabri berprinsip seorang imam harus bisa memberikan uswah kepada jamaahnya. Termasuk keluarga kecilnya. Dan tidak heran bila Aiman dan Arham tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berakhlak mulia.Dan akhirnya keluarga kecil itu kembali dalam buai, tawa, dan canda yang indah. Pak Shabri tak merasakan lelah yang mendera karena hari itu ia harus mengekor ratusan itik Pak Haji yang saatnya karena musim bertelur tiba.“Bapak, Ibu... Aiman ganteng kan?” Tanya Aiman manja. Kedua orang tua itu tersenyum bangga melihat malaikat kecilnya tertawa lepas. Si bungsu Aslam ikut berceloteh riang. Aiman dan Arham pun berlari ke luar. Saatnya mereka mengumandangkan adzan magrib memakai baju baru. ***Selepas subuh Pak Shabri bersiap untuk kembali ke kampung itiknya. Sementara si Aiman masih melingkar di atas bantal setia menunggu si Aslam sampai bangun. Dilihatnya kedua mutiaranya masih terlelap. Pak Shabri mencium kening mereka satu persatu.“Arham, kamu bantu ibu ya nak ya. Bapak mau berangkat. Doakan itik bapak banyak yang bertelur hari ini!” Pak Shabri kemudian menghampiri Arham yang sedang membantu ibunya di dapur. Bergegas Arham berdiri. Beberapa potong cabai yang ia ambil tangkainya ia biarkan tergeletak di atas tikar. Arham pun melontarkan tubuh kecilnya ke dekapan sang ayah kebanggaannya.“Iya, amin bapak. Amin. Semoga barokah.” Bu Siti tersenyum.“Assalamu’alaikum semua.”“Wa’alaikumsalam ayah.” Bu Siti dan Arham tersenyum dan menganggukkan kepala dan berpandangan. Pak Mukhlis pun menghilang di balik.“Oh ya Arham, tolong bantu ibu ambilkan air gi. Setengah gayung saja. Adonan bakwan yang ibu buat terlalu kental.” Ibu Siti segera teringat adonan bakwan yang dia buat tadi.Tanpa panjang waktu Arham pun pergi ke sumur belakang. Bertepatan hari itu Ahad Pahing. Hari pasaran. Setiap hari pasaran Bu Siti selalu membuat gorengan; bakwan, tahu, dan tempe. Kemudian dititipkan di bakul pasar. Meskipun rumah mereka kecil. Namun strategis. Beberapa meter ke arah selatan terdapat perempatan besar. Pasar Desa Babadan dan sekolah Aiman berhadap-hadapan di ruas perempatan bagian selatan. Dan kantor kepala desa Babadan terletak di ruas perempatan bagian utara kanan jalan. Berdampingan dengan puskesmas desa. ***“Arham, tolong ibu nak. Kamu tungguin adikmu Aslam ya. Ibu mau menyiapkan ember mandi adik.” Bu Siti memanggil Arham. Beberapa saat tidak ada sahutan dari anak kelas 5 itu.“Arham... Ham.” Bu Siti mengeraskan suaranya. “Ah, kemana si Arham,” batinnya.Baru sesaat kemudian menyahut. “Iyaa Ibu, iya.” Arham berlari dari depan rumah.“Arham kamu lagi ngapa nak. Dipanggil Ibu berkali-kali tidak mendengar. Adikmu agak rewel ini. Bantu ibu!” Arham mengangguk.“Nak. Oh ya, sudah kamu antar tempe goreng ke Budhe Painah?”“Sudah Ibu. Dan budhe titip uang jajan kemaren Bu.” Arham merogoh saku celananya. Kemudian memberikan beberapa uang receh dibungkus uang kertas berwarna kebiruan.“Aiman mana?”“Aiman ada di depan bu. Kita lagi mainan tadi.” Arham seperti tidak menggagas pertanyaan Bu Siti.Baru beberapa saat Bu Siti menyiapkan air hangat di belakang rumah tangis Aslam kembali pecah. “Arhaam. Adik dicup-cup dulu nak. Biar ndak nangis.” Tapi tak terdengar sahutan si Arham. Bahkan tangis si Aslam tambah mengeras.Bu Siti tergopoh-gopoh ke dalam.“Arham, ka.... Aduh kemana ini anak. Disuruh nenangin adiknya malah sudah menghilang lagi.” Batinnya. Ibu Siti menggeleng-gelengkan kepalanya.Kemudian Bu Siti membawa Aslam ke belakang rumah untuk dimandikan. “Ada apa kamu Aslam. Dari tadi nangis terus kamu nak?”Bu Siti memandang wajah lucu Aslam. Dia kemudian berdoa di dalam hati agar si Aslam tumbuh menjadi anak yang sholeh. Bu Siti terus memandangi malaikat kecilnya sambil bershalawat.Baru beberapa saat memandikan Aslam. Suara tangis Aiman terdengar dari depan rumah. Nampak suara Aiman kesakitan.“Ibu, ibu....” Teriak si kecil Aiman.“Arham... Ham... Ham... Adikmu kenapa itu. Coba ditolong nak. Ham!!!” Bu Siti memanggil Arham dengan suara agak keras. Tapi tangis Aiman semakin menjadi-jadi.Bu Siti kebingungan. “Aduh, Arham kemana ini.” Raut muka ibu Siti cemas. Ditambah si kecil Aslam ikut-ikutan menangis.Baru mau berdiri sambil mengendong Aslam. Muncul Aiman dari arah pintu dapur menangis sejadi-jadinya. Bu Siti tambah kebingungan. Dilihatnya Aiman kesakitan sambil memegangi kelaminnya yang berdarah.“Aiman, Aiman kamu kenapa nak??” Ibu Siti kaget dan menjerit histeris melihat banyak darah keluar dari kelamin si Aiman.“Mas Arham....” Isak Aiman.Arham pun muncul di belakang Aiman. Tangannya memegangi gunting yang berlumuran darah.“Kamu apain adikmu Arham?” Bu Siti semakin kalut. “Astaghfirullahal’azim. Tolooooooooong ....”Nampak raut muka Arham ketakutan melihat ibunya histeris teriak minta tolong. Dia kemudian berlari ke depan. Kepanikan bu Siti semakin menjadi. Dan terus berteriak minta tolong. Dan sesaat kemudian. Brakkk.... Terdengar benturan keras dari jalan depan rumah. Ibu Siti berlari keluar rumah dan didapatinya pemandangan yang sungguh mengerikan. Arham, anak kesayangannya tergolek di tengah jalan dengan memakai baju biru berlumuran darah. Ada sepeda motor terjungkal pas di depan rumah Bu Siti. Dan ada pemuda yang memagangi kakinya yang patah. Jerit histeris Bu Siti tak terperikan. Bu Siti lemas tersungkur.***Perlahan mata itu terbuka perlahan-lahan. Gelap dan kabur.“Arham... Arham....” Lirih kata itu terucap dari mulut Bu Siti. Suhu tubuh Bu Siti sangat tinggi. Namun sekujur tubuhnya tak dapat merasakan apapun. Sementara di luar terdengar alunan suara orang menderas Al Quran dengan tartil dalam pita kaset. Semakin lama semakin menyayat hati Bu Siti. Bau harum bungan mawar dan melati pun menyeruak memenuhi ruangan.“Bu... sabar ya bu... kita harus ikhlas. Aslam, Aiman, dan Arham sudah pergi meninggalkan kita. Menunggu kita bertemu di surga, Bu. Mutiara-mutiara kita telah dipanggil ke rahmatullah” Dengan terbata dan berat Pak Shabri mencoba menenangkan Bu Siti. Dan butiran kristal air bening kembali menetes di kelopak mata bu Siti.Banyak mata berkerumun di dalam istana yang mungil itu. Terlihat Pak Shabri mendekap erat tubuh bu Siti. Sementara ada tiga jasad kecil terbujur kaku memenuhi ruangan sempit itu. Dalam hitungan detik mereka telah kehilangan ketiga anaknya. Aslam tertidur pulas di dalam ember mandi kesayangannya. Aiman kehabisan darah karena luka di kelaminnya. Dan Arham, dia berpulang karena tak sanggup menahan benturan di kepala.Sementara Pak Shabri hanya termangu berhujan airmata. Masih tergiang dalam ingatannya pertanyaan si Arham ketika beberapa hari lalu. “Bapak, apakah seseorang baligh itu harus dipotong burungnya?” Dan ketika itu Pak Shabri hanya menjawab dengan senyum mendengar pertanyaan lucu si Arham. Pak Shabri sekarang hanya bisa tercekat. “Ya Allah, andai aku punya waktu itu kembali. Tentu akan aku jawab pertanyaan Arham anakku. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.”
Populerkan, simpan atau kirim cerpen ini :

posted under | 0 Comments

Hanya Sekali Kau Rasakan Ini

Ini rasa yang hanya sekali para insan rasakan dalam hidupnya,,rasa yang pasti yang akan dialami oleh setiap jiwa manusia, tetapi tidak semua jiwa manusia mengalami kemudahan ketika ruh mereka dicabut oleh malaikat-malaikat yang diutus oleh Allah. dimana semua yang hidup didunia ini akan merasakan sakitnya itu, rasanya seperti kambing yang di kulitin hidup hidup, oleh para insan di dunia atau seperti di tusuk pedang yang telah di panaskan.,, wao tak bisa kubayangkan hal itu… tapi mau bagaimana? Semua orang pasti merasakannya… adi mulailah ikhlas dari sekarang… di sini suatu kisah dimana aku tahu tentang sakratul maut,dan mulai sinilah aku berpikir dewasa tentang hal itu … Minggu pagi tepat jam 9 aku pergi kearah yang sama dengan salah satu temanku,tapi kita berbeda tujuan,aku ingin bekerja kelompok dan dia ingin mengikuti bimbingan belajar,dan kita pun terpisah dengan waktu... Waktu pun terus berputar,tak terasa pengerjaan kita selesai dengan apa yang kita inginkan,kami pun menuju keluar pintu kamar untuk beristirahat sejenak di luar,ketika aku ingin menjatuhkan tubuh ku di empuknya sofa ruang tamu,sesuatu yang tak ku duga kudengar dengan telinga kiriku,hingga tubuhku terasa bergetar saat kudengar itu,hingga bibirku berkata “INNALILAHIWAINNAILAIHI ROJIIUN” satu kalimat yang aku ucapkan dengan perasaan seperti aku berada dikegelapan malam dan dinginnya angin yang menusuk hatiku… begitu cepat dia meninggalkan kita semua,dan begitu cepat untuk dia barada di rumah kehidupan itu. Ku dengar dua insan telah merasakan rasa itu, yang satu pergi tanpa tanda dan yang satu pergi dengan meninggalkan jejak dan mereka hanya meninggalkan ‘NAMA’ dua insan yang tak pernah bertatap muka dengan ku dan hanya ku dengar namanya dari bibir bibir kecil insan lainnya,seketika itu pikiran ku mulai berpikir tentang hal itu… Aku pun pergi kerumahnya,sebenarnya kita tak ada tujuan untuk itu,jd kami hanya membawa barang barang sederhana.. Saat aku menginjakan kakiku dihalaman rumahnya kudengar suara tangis yang sangat begitu mendalam hingga menembus dinding hatiku dan mengetarkan tubuhku, kakiku menuntunku kerumah itu,,,kulewati beberapa orang yang telah berduka didepan terasnya yang kecil, Ku lihat dia di balik kain coklat batik yang menutupi seluruh badannya,dan saat kain itu di buka,kulihat wajahnya yang begitu menawan dengan mata yang terbuka setengah,ku perhatikan wajah lembutnya itu dengan setetes air yang telah berada di ujung mataku,,detak jantung ku berdetak cepat,tak kuasa ku melihatnya,,, Itu pun pertama dan terakhirnya ku melihat wajahnya.., tak tahu kenapa air mata ini tertetes? dan aku tahu jawabanaya yaitu aku menagis bukan karena dia meninggalkan kita semua,tapi aku menagis karma aku membayangkan rasa itu yaitu sakratul maut,dan penyiksaan di neraka,dan juga pertanyaan pertanyaan yang akan di lemparkan kepada kita di alam kubur nanti, kita hidup hanya sementara di dunia ini,dan ini adalah keputusan yang kita ambil saat kita melakukan perjanjian dengan allah, kemudian aku bertanya pada diriku mengapa ku tak bisa mengingat hal itu,,??? Pertanyaan itu mengikuti ku seperti bayangan ku yang slalu mengikuti diriku ini, saat ku berjalan menuju suatu tempat dengan papan papan yang berdiri diatas tanah coklat dimana para insan beristirahat untuk terakhir kalinya,dan saat jenajah itu akan di bumikan,saat itu terpikir di kepalaku…. Ku pikirkan kembali tentang pertanyaan tadi “jika semua insan diingatkan dengan perjanjian itu,maka tak akan ada surga dan tak aka nada neraka” tapi itu adalah rahasia allah,dan tak ada gunanya aku berpikir hal itu,," yang harus ku pikirkan adalah “Bagaimana dengan kewajiban ku......?,” “Bagaimana dengan tanggung jawab ku......?” “Bagaimana dengan kehalifahan ku di dunia ini.....?” “Apa kah aku sudah melaksanakan semua tugas itu.....?” "Dan bagaimana dengan kau.......?" Air mata ini terus mengalir saat aku ditanya dan mendengarkan kata “SAKRATUL MAUT” karma Rasa sakit pada sakaratul maut langsung menghunjam ruh itu sendiri sehingga menerobos seluruh organ-organ tubuhnya, seluruh jaringan sarafnya, seluruh urat-urat. di tubuhnya, bahkan juga seluruh persendian tubuhnya, hingga merambati akar rambut dan kulit dari atas kepala hingga ujung kaki … Dan rasa sakit itu hanya 1 kali menghampiri dalam hidup kita,,,,! Masyaallah dahsyatnya saat itu….. Jika SAKRATUL MAUT itu datang maka: Tak ada lagi…. arti harta………… Tak ada lagi.…arti jabatan……… Tak ada lagi….arti keangkuhan……. Tak ada lagi…. arti kesenangan duniawi……. Tak ada lagi ….arti kekuasaan Hanya ada arti sebuah nama jadi sebelum rasa itu datang, apa kah kamu sudah melakukan tanggung jawab itu….? Jika tidak laksanakanlah dari sekarang, Sebelum semuanya terlambat….. jika kamu telah melaksanakan kewajiban itu maka keTika kamu berpikir sakratul maut dan neraka kamu akan meneteskan air mata mu itu di wajahmu..........
Populerkan, simpan atau kirim cerpen ini

posted under | 0 Comments

“Komet, Tolong Maafin Malam, Ya !”

Gadis itu sedang celingukan kanan kiri, melihat polah tingkah teman-temannya yang berbaris bersamanya untuk menyambut guru pindahan baru yang akan jadi guru kelas mereka. Gadis jutek kelas 5 SD itu sering berharap dilahirkan sebagai anak laki-laki. Dia menganggap laki-laki lebih kuat, kuasa, sehingga tidak mudah jadi objek permainan, sedangkan anak perempuan 180o-nya
Bu Ana, guru baru itu ternyata guru yang cantik, ramah, supel, bersemangat, pandai dan bertanggungjawab. Setiap pagi, suami bu Ana yang seorang pegawai bank, mengantarkan istri dan putra bungsunya ke sekolah dengan mobil (guru SD bermobil masih terasa ”wah” waktu itu). Putra bu Ana untuk sementara ikut ibunya mengajar dulu sampai mendekati pukul 8, kemudian akan diantar pesuruh sekolah ke TK-nya dan dijemput sekitar pukul 10, lantas menemani ibunya mengajar lagi sampai kelas berakhir. Koko, begitulah bu Ana biasa memanggil putranya itu.
Pagi itu ada yang lain pada penampilan bu Ana, murid-muridnya sampai pangkling. Ternyata bu Ana begitu tergesa-gesa berangkat ke sekolah hingga belum sempat berhias. Sekarang tahulah mereka lukisan usia bu Ana yang selama ini tertutup make up, yang membuat bu Ana terlihat muda dan fresh. Belakangan baru mereka tahu dik Koko dan kakaknya terpaut usia yang jauh (kakak dari dik Koko, putri kedua bu Ana waktu itu sudah SMA), tak mengherankan lagi.
Dik Koko adalah anak yang ”istimewa” namun dia juga anak kecil yang polos dan lucu. Keberadaan dik Koko membawa nuansa baru di kelas 5, membawa keceriaan, canda dan tawa, walau mereka tak paham betul bahasa ”acicia” dik Koko.
Hari itu disaat bu Ana tidak di dalam kelas, murid-murid laki-laki kelas 5 berusaha menjahili si gadis jutek. Mereka mengajari dik Koko cara mengganggu si gadis jutek. Dik Koko menari-narikan tangannya tepat di depan gadis jutek yang sedang menulis. Si gadis jutek yang memang agak illfeel dengan makhluk berjakun itupun marah besar, tapi dia salah sasaran. Dijabatnya tangan dik Koko, bukan untuk besalaman tapi untuk menunjukkan keahlian barunya dalam meremas tangan. Dijabat erat tangan kecil itu, sambil diimbuhi remasan ke kanan kiri untuk menimbulkan gesekan antar ruas tulang telapak tangan. Teknik jabat tangan gaya baru itu, sebelumnya telah dipraktekkan pada teman-teman perempuan si gadis jutek, dan berhasil membuat mereka meringis. Dik Koko hanya diam menatap gadis jutek dengan mata berkaca-kaca.
Tahun-tahun telah bergulir, kini si gadis jutek sudah dewasa. Ketika dibacanya buku perkuliahannya :
Sindrom Down merupakan salah satu kelainan yang disebabkan perubahan kromosom. Hal ini diakibatkan nondisjungsi (gagal berpisahnya kromosom homolog / kromatid saudara) pada meiosis sel gamet orang tua, sehingga sang anak mengalami trisomi (rangkap tiga) pada kromosom 21. Orang normal memiliki 23 pasang atau 46 kromosom, sedangkan pada penderita Sindrom Down memiliki 47 kromosom. Ciri-ciri penderita Sindrom Down antara lain penampakan wajah yang khas / mongolid, tubuh pendek, cacat jantung, kerentanan terhadap infeksi saluran pernapasan dan lemah mental. Lebih jauh mereka juga memiliki kecenderungan menderita leukimia dan Alzheimer.
Frekuensi Sindrom Down berkorelasi dengan umur si ibu. Sindrom Down terjadi pada 0,04% anak yang dilahirkan oleh wanita berumur di bawah 30 tahun dan resiko ini meningkat menjadi 1,25% pada wanita yang berumur sedikit di atas 30 tahun...
Apa dik Koko juga...? Gadis jutek teringat lagi pada wajah khas dengan mata berkaca-kaca itu. Wajah bocah polos yang telah disakiti tanpa tahu apa salahnya. Mungkin bocah itu belum paham banyak hal, tapi tentu dia dapat merasakan sakitnya tangan diremas dan juga jiwa yang tersakiti oleh perilaku kasar orang lain.
Sampai sekarang si gadis jutek agak takut berdekatan dengan anak kecil. Bukan...bukan karena dia membenci anak kecil, melainkan karena dia takut menyakiti mereka lagi. Meskipun gadis jutek berusaha, belajar berubah untuk lebih baik, untuk jadi pribadi perempuan yang menyenangkan tapi ada sesal yang terus menghantuinya. Sesal untuk segala tingkahnya, sesal untuk kata yang belum sempat terucap,”Dik Koko, tolong maafin aku ya !”
”Dik Komet, tolong MAAFIN Mbak Wengi ya !”

posted under | 0 Comments

Followers


Recent Comments