Berawal dari Mimpi yang Besar
By Afif
Kala matahari mulai malu untuk menampakkan sosoknya di atas Kediri di senja sore yang cerah. Di sudut rumah reot yang terletak di desa Duwet duduklah pemuda harapan bangsa. Pemuda tersebut sedang menghanyati kata-kata mutiara yang telah menari-nari di pikiranya sejak di sekolah tadi. Kata mutiara, yang diberikan gurunya ialah“Hey, you open your eyes and get mind your future.”, yang telah memberikan lecutan semangat bagi dirinya agar dapat menatap masa depan yang cerah. Pemuda tersebut bernama Afif Indrawan, lebih akrab dengan panggilan Afif, mempunyai paras yang hitam manis, sabar, kreatif, serta sederhana.
Beberapa menit setelah menunaikan sholat maghrib Afif teringat dengan ucapan Einstein,“Ada dua cara menjalani hidup, yaitu menjalaninya dengan keajaiban-keajaiban atau menjalaninya dengan biasa-biasa saja“. Kemudian Afif cepat-cepat menafsirkan kembali apa yang di maksud oleh kata-kata Einstein. Afif menafsirkannya bahwa seseorang harus punya impian yang besar buktinya Thomas Alfa Edison menemukan bolam lampu dari mimpi besar dia untuk menerangi dunia. Inilah wujud salah satu cara untuk mengarungi kehidupan dengan keajaiban-keajaiban yaitu orang harus total serta tetap memupuk mimpi-mimpi besar untuk membuat perubahan yang membantu terwujudnya dunia yang lebih maju dan bermanfaat bagi orang banyak. Jadi, seseorang dalam mengarungi kehidupan dengan penuh ajaib, dengan menyerahkan kepada Kuasa Tuhan Yang Mahakuasa serta selalu bersyukur setiap apa yang telah didapatkan.
Sesaat kemudian Afif mulai menyusun mimpi yang besar. Impiannya ialah menjadikan tahu Kediri Go Internasional. Impian tersebut berawal dari kegemarannya makan tahu goreng(tahu holic), lalu background kehidupannya sebagai anak penjual tahu keliling, adanya komentar dari masyarakat sekitar yang memandang sebelah mata tentang profesi orang tuanya, serta ingin gaungan Kediri sebagai kota tahu tidak hanya populer di Indonesia saja tapi dapat terdengar sampai luar negeri. Impian tersebut dipendam dalam hati dan berjanji tidak akan mengatakan sepatah katapun kepada orang lain bahkan orang tuanya sendiri tidak dikasih tahu sebelum dapat membuktikan.
Afif sekarang masih duduk di bangku SMA kelas Dua-Bahasa. Afif merasa bahwa ia belum punya waktu untuk mewujudkan impiannya tetapi ia tidak begitu saja putus asa. Afif menyiasatinya dengan belajar membuat tahu putih dari orang tuanya serambi membantu mereka. Itu semua dilakukan sebagai modal awal yang bagus bila diibaratlan bangunan maka dia telah membuat pondasi yang kuat terlebih dahulu. Afif berharap selekasnya lulus SMA ia dapat mewujudkan impiannya meski butuh proses yang panjang serta adanya kesabaran yang besar.
Setelah lulus afif segera total terjun dalam dunia tahu. Meski semua sahabatnya menuntut ilmu ke perguruan tinggi kecuali ia, ia tetap menjalin relasi dengan mereka dan tidak merasa minder. Afif mengawali kegiatannya dengan menjadi penjual tahu seperti ayahnya. Setiap hari hidupnya mulai lekat, terbiasa, serta serasa telah menyatu dengan kedelai(bahan utama membuat tahu), pengaduk cetakan, tungku pembakaran, kain saring, serta masih banyak yang lainnya. Beberapa bulan kemudian akhirnya Afif sudah bisa membuat tahu yang layak dipasarkan.. Meski begitu Afif merasa bahwa cita rasa buatannya masih jauh beda dengan ayahnya.
Afif dalam berusaha mengungguli cita rasa tahu ciptaan ayahnya banyak terjadinya kegagalan tetapi dia tetap berusaha. Afif bergumam dalam hati. Jika aku belum mampu mengungguli ayahku maka aku sama seperti katak dalam tempurung.Maka aku harus bisa, tambah Afif. Akhirnya usahanya tidak sia-sia, sekarang Afif dapat mengungguli cita rasa buatan ayahnya. Akan tetapi Afif tidak langsung merasa puas dia menginginkan mampu membuat tahu jenis yang lain, yaitu tahu kuning. tahu kuning tersebut kebanyakan diproduksi oleh pengusaha keturunan Cina yang ada di kota.
Beberapa bulan kemudian Afif mulai merantau ke kota Kediri untuk menjadi karyawan di salah satu pengusaha tahu kuning. Afif mulai mendatangi pengusaha tahu kuning yang ada di sepanjang jalan klenteng untuk melamar. Afif mendapatkan berbagai jawaban yang sama yaitu di tolak. afif mendapatkan perlakuan yang menyenangkan tetapi tidak sedikit juga yang memperlakukannya dengan kasar. Itu semua ia lakukan dengan sabar. Ketika tiba di ujung jalan ia bertemu dengan lelaki yang berumur paruh baya. Lelaki tersebut ialah pengusaha tahu kuning yang mempunyai semanggat untuk mensukseskan pemuda yang bersemangat menggebu-gebu. beliau mengajak bicara Afif yang sedang istirahat.
“Hei, kok melamun?” tanya lelaki paruh baya tersebut.
“Ah, tidak kok. Saya sedang istirahat sejenak serambi memikirkan tempat pengusha tahu kuning yang lainnya.” jawab Afif.
“Uwhm, kamu namanya siapa dan dari mana? Mau melamar sebagai karyawan?” tanyanya.
“Nama saya Afif Indrawan dari Duwet Wates. Ya, saya mau melamar sebagai karyawan seraya belajar membuat tahu kuning yang bermutu bagus.” jawab Afif dengan sungguh-sungguh.
“Uwhm, begitu. Bila kamu sungguh-sungguh serta dapat telaten maka kamu akan aku jadikan karyawanku. Apakah kamu sanggup?” tanyanya seraya menantang Afif.
“Ya, saya bisa.” jawaban yang tegas keluar dari lubang kedua bibirnya untuk membalas tantangan tersebut.
“Kalau begitu besok mulailah bekerja di tempatku jam tiga pagi!” kata beliau seraya menunjuk tempat pembuatan tahu kuning milik beliau.
“Tidak usah menunggu hari esok pak! Sekarang saya sudah siap bekerja.” jawabnya dengan spontan.
“ah tidak besok aja. istirahatlah dulu! lihatlah dirimu yang masih kecapekan itu! lagi pula hari ini masih libur.” katanya.
“ehm, ya bila kamu ingin menginap. menginaplah di kamar karyawan yang masih kosong!”
“ya pak, terima kasih atas semuanya.”
Beliau memilih Afif setelah beliau melihat dari kesungguhan serta kesabaran meski ditolak di sana ke mari.
Afif merasa senang telah diterima dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dalam waktu dua minggu Afif sudah bisa membuat tahu kuning yang cita rasanya sama dengan bossnya. karena kemajuan Afif yang begitu pesat, itu membuat hati bossnya terbuka agar mau mengangkatnya jadi kaki tangan. Di sana Afif telah melakukan pepatah yang berbunyi, Sekali Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui. Karena Afif tidak hanya belajar membuat tahu kuning tetapi juga cara memasarkan produknya kepada konsumen selain itu ia mendapatkan pelajaran tentang prinsip jual orang Cina agar memperbanyak pelanggan meski harus rela mengambil untung yang sedikit.
Setelah dua belas bulan bekerja Afif ingin mengepakkan sayapnya lagi untuk membuat steak tahu. keinginannya didukung serta disemangati oleh pengusaha tersebut agar tidak langsung puas dan mau mengembangkan lagi. Sebelum Afif melirik pengusaha steak tahu yang sukses. Afif mempraktekan ilmunya di pabriknya. afif berhasil menjadi pembuat tahu putih dan kunig yang sukses dengan di tandai dapat memperbarui pabriknya serta dapat membuat lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitarnya.
Afif mulai melirik pengusaha steak tahu yang sukses. Afif tidak ingin sekedar tahu cara membuat tapi dia ingin bisa membuat. Karena menurutnya, orang malas cenderung hanya ingin tahu tapi orang sukses ingin bisa. meski dia sudah menjadi bos, dia tidak malu untuk melamar menjadi karyawan steak tahu. selama setengah tahun bekerja di pabrik steak tahu ia sadar bahwa tahu tidak hanya di goreng tetapi dapat diolah dengan cara lain sehingga dapat menimbulkan keunikan misalnya steak tahu.
Setelah bekerja di dua tempat yang berbeda ia mulai mencoba berusaha di desanya serambi mengumpulkan modal menyewa ruko di dekat tempat wisata. ia membuat produk yang hamper sama dari tempat bekerjanya semula akan tetapi lama kelamaan ia mulai mencari-cari tentang perbedaannya agar tidak teresan sama. usaha barunya mulai di terima oleh masyarkat sekitar dan afif mendapatkan pelanggan tetap yang banyak. sehingga ia membutuhkan karyawan untuk membantunya bahkan ia mampu membuat lapangan kerja baru bagi lingkungannya. para masyarakat yang dulu telah menganggap sebelah mata tentang penjual tahu mulai sadar dan jadi ikut-ikutan..
afif mulai punya modal yang banyak sehingga ia dapat membangun ruko di tempat dekat wisata di kediri. afif ingin rukonya beda serta unik dari pada yang lainnya. maka ia meminta pendapat kepada temannya yang kuliah jurusan seni. ia disarankan untuk mewarnai dindingnya seperti warna tahu kuning. serta di beri gambar menu-menu yang di sajikan serta harganya. mejanya di bentuk seperti tahu yang tinggi dan kursinya seperti tahu yang pendek. dan tak kalah pentingnya ia harus punya naa tersendiri.
afif memikirkan nama hasil produksinya agar terlihat bombastis. setelah tiga hari tiga malam ia baru menemukan nama yang menurutnya bagus. ia memberi nama “jajanan tahu kediri”. keunggulan jajanan tahu buatannya tersebar dari mulut ke mulut. setelah sukses membentuk satu ruko yang unik di salah satu tempat wisata di kediri ia mulai mencari tempat wisata di kediri yang lainnya untuk membangun ruko yang bentuknya sama. perjuangannya tidak itu saja ia mulai mengenalkan produknya di dunia maya melalui sahabatnya yang berhasil di nego untuk membuat situs resmi tentang Jajanan Tahu Kediri.
ia mulai membuat ruko-ruko hingga ke berbagai kota-kota besar. dan mempunyai banyak anak cabang. suatu hari sahabatku yang kuliah dati luar negeri mengenalkankau kepada orang yang ingin mengimpor produknya dikarenakan gaungnya sudah didengar sampai keluar negeri. ketika iktikad baik itu didengar oleh afif lekas saja dia sujud syukur karena impiannya selama ini telah berhasil setelah itu mengiyakan tawaran orang saing tersebut. ia ingat kata-kata Mario Teguh. “Apapun yang Anda perjuangkan melalui pertarungan – pasti merupakan sesuatu yang penting bagi Anda. Itu sebabnya Anda dikenal dari apa yang Anda pertarungkan.”
karena ia teringat dengan pesan temannya,”When you fall down, just try again!”

Recent Comments