“Komet, Tolong Maafin Malam, Ya !”
Gadis itu sedang celingukan kanan kiri, melihat polah tingkah teman-temannya yang berbaris bersamanya untuk menyambut guru pindahan baru yang akan jadi guru kelas mereka. Gadis jutek kelas 5 SD itu sering berharap dilahirkan sebagai anak laki-laki. Dia menganggap laki-laki lebih kuat, kuasa, sehingga tidak mudah jadi objek permainan, sedangkan anak perempuan 180o-nya
Bu Ana, guru baru itu ternyata guru yang cantik, ramah, supel, bersemangat, pandai dan bertanggungjawab. Setiap pagi, suami bu Ana yang seorang pegawai bank, mengantarkan istri dan putra bungsunya ke sekolah dengan mobil (guru SD bermobil masih terasa ”wah” waktu itu). Putra bu Ana untuk sementara ikut ibunya mengajar dulu sampai mendekati pukul 8, kemudian akan diantar pesuruh sekolah ke TK-nya dan dijemput sekitar pukul 10, lantas menemani ibunya mengajar lagi sampai kelas berakhir. Koko, begitulah bu Ana biasa memanggil putranya itu.
Pagi itu ada yang lain pada penampilan bu Ana, murid-muridnya sampai pangkling. Ternyata bu Ana begitu tergesa-gesa berangkat ke sekolah hingga belum sempat berhias. Sekarang tahulah mereka lukisan usia bu Ana yang selama ini tertutup make up, yang membuat bu Ana terlihat muda dan fresh. Belakangan baru mereka tahu dik Koko dan kakaknya terpaut usia yang jauh (kakak dari dik Koko, putri kedua bu Ana waktu itu sudah SMA), tak mengherankan lagi.
Dik Koko adalah anak yang ”istimewa” namun dia juga anak kecil yang polos dan lucu. Keberadaan dik Koko membawa nuansa baru di kelas 5, membawa keceriaan, canda dan tawa, walau mereka tak paham betul bahasa ”acicia” dik Koko.
Hari itu disaat bu Ana tidak di dalam kelas, murid-murid laki-laki kelas 5 berusaha menjahili si gadis jutek. Mereka mengajari dik Koko cara mengganggu si gadis jutek. Dik Koko menari-narikan tangannya tepat di depan gadis jutek yang sedang menulis. Si gadis jutek yang memang agak illfeel dengan makhluk berjakun itupun marah besar, tapi dia salah sasaran. Dijabatnya tangan dik Koko, bukan untuk besalaman tapi untuk menunjukkan keahlian barunya dalam meremas tangan. Dijabat erat tangan kecil itu, sambil diimbuhi remasan ke kanan kiri untuk menimbulkan gesekan antar ruas tulang telapak tangan. Teknik jabat tangan gaya baru itu, sebelumnya telah dipraktekkan pada teman-teman perempuan si gadis jutek, dan berhasil membuat mereka meringis. Dik Koko hanya diam menatap gadis jutek dengan mata berkaca-kaca.
Tahun-tahun telah bergulir, kini si gadis jutek sudah dewasa. Ketika dibacanya buku perkuliahannya :
Sindrom Down merupakan salah satu kelainan yang disebabkan perubahan kromosom. Hal ini diakibatkan nondisjungsi (gagal berpisahnya kromosom homolog / kromatid saudara) pada meiosis sel gamet orang tua, sehingga sang anak mengalami trisomi (rangkap tiga) pada kromosom 21. Orang normal memiliki 23 pasang atau 46 kromosom, sedangkan pada penderita Sindrom Down memiliki 47 kromosom. Ciri-ciri penderita Sindrom Down antara lain penampakan wajah yang khas / mongolid, tubuh pendek, cacat jantung, kerentanan terhadap infeksi saluran pernapasan dan lemah mental. Lebih jauh mereka juga memiliki kecenderungan menderita leukimia dan Alzheimer.
Frekuensi Sindrom Down berkorelasi dengan umur si ibu. Sindrom Down terjadi pada 0,04% anak yang dilahirkan oleh wanita berumur di bawah 30 tahun dan resiko ini meningkat menjadi 1,25% pada wanita yang berumur sedikit di atas 30 tahun...
Apa dik Koko juga...? Gadis jutek teringat lagi pada wajah khas dengan mata berkaca-kaca itu. Wajah bocah polos yang telah disakiti tanpa tahu apa salahnya. Mungkin bocah itu belum paham banyak hal, tapi tentu dia dapat merasakan sakitnya tangan diremas dan juga jiwa yang tersakiti oleh perilaku kasar orang lain.
Sampai sekarang si gadis jutek agak takut berdekatan dengan anak kecil. Bukan...bukan karena dia membenci anak kecil, melainkan karena dia takut menyakiti mereka lagi. Meskipun gadis jutek berusaha, belajar berubah untuk lebih baik, untuk jadi pribadi perempuan yang menyenangkan tapi ada sesal yang terus menghantuinya. Sesal untuk segala tingkahnya, sesal untuk kata yang belum sempat terucap,”Dik Koko, tolong maafin aku ya !”
”Dik Komet, tolong MAAFIN Mbak Wengi ya !”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar